Jadi Freelancer? Kenapa Ngga?

Pernah dengar istilah Freelancer? atau kebetulan kamu sudah menjalaninya? Memang kata "Freelance" di masyarakat kita masih dipandang sebelah mata.
Ada yang bilang freelancer itu sama aja pengangguran yang kerjanya serabutan dan masih menganggap bekerja kantoran masih lebih terhormat. Yah, mungkin yang masih berpikiran seperti itu hidupnya kurang piknik dan pola pikirnya sempit jadi kurang berkembang dengan baik. Padahal Tuhan memberikan otak terbaik untuk makhluk bernama Manusia yang harusnya berpikir lebih jauh kedepan dibanding hanya mengungkung diri sendiri. Ok, kembali ke topik. Kenapa saya membahas Freelance? Karena memang saya saat ini sudah menjalaninya beberapa tahun dan sudah paham sekali bagaimana enak dan sulitnya jadi Freelancer. Di tulisan berikut ini mungkin bisa membuka sedikit pikiran kamu, atau mungkin bisa merubah pikiranmu untuk mencoba menjadi Freelancer seperti saya.

1. Punya Waktu Luang Lebih Banyak
Punya waktu luang disini bukan berarti kita pengangguran loh ya. Kalo kita bisa memanfaatkan waktu luang ini menjadi berkualitas pastinya akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat juga. Misalnya, disaat luang kamu bisa manfaatkan waktu untuk mencari pengetahuan baru dan belajar hal yang baru untuk kamu implementasikan di project kamu berikutnya. Di waktu luang ini juga bisa dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, teman atau juga pacar yang jujur saja selama saya bekerja kantoran waktu luang ini sangat kurang saya berikan kepada mereka yang menyayangi saya. Bukan karena sok sibuk, tapi karena tuntutan pekerjaan yang kadang mengharuskan saya menggunakan waktu istirahat & libur saya hanya untuk pekerjaan yang kadang bisa ditunda besok-besok, tapi karena keinginan atasan yang ingin segera diselesaikan jadinya saya harus mengorbankan orang-orang terkasih saya. Masa iya segitunya? buktinya saya rasakan selama 5 tahun saya bekerja di kantor terakhir saya yang akhirnya membuka pikiran saya untuk segera meninggalkan perusahaan itu.

Tapi kadang banyak orang mengira karena banyaknya waktu luang yang tidak terpakai membuat mereka berpikir kalo kita pengangguran tapi kok bisa tetap jalan-jalan, beli sepatu baru, hp baru bahkan kendaraan baru. Tenang, kita bukan "ngepet" kok, hasil kekayaan kita masih halal.

2. Pendapatan Yang Tidak Pasti
Punya pendapatan yang jumlahnya ngga pasti bukan berarti negatif loh. Beda dengan kerja di kantoran, kita sudah bisa hitung berapa yang kita dapat tiap bulannya. Beda waktu jadi freelancer, kadang hari ini sedikit, besok banyak, dan besoknya ngga dapat apa-apa. Sebenarnya kalo kita bisa me-maintain dan mengatur keuangan dengan baik bisa dibilang pendapatan kita ngga terlalu mengecewakan, yang penting tetap berusaha dan ngga pernah menyia-nyiakan waktu luang kita untuk tetap mencari peluang. Sepengalaman saya, pernah saatnya saya tidak mendapatkan project apapun dalam sebulan. Sempat kecewa, tapi akhirnya saya berinisiatif membuat sesuatu yang produksitf. Dengan memanfaatkan sosial media yang GRATIS ini saya share karya-karya saya yang akhirnya mulai berdatangan calon klien saya. Nah disaat inilah sikap profesionalitas kita diuji karena kita langsung berhadapan dengan berbagai jenis klien dengan permintaan berbeda-beda. Tapi yang penting kita bisa mengatur semuanya dan berusaha tetap profesional supaya klien akan kembali ke kita saat akan memulai project baru lagi.
3. Butuh Energi Ekstra
Apakah kamu terbiasa menunggu menyelesaikan pekerjaan setelah diperintah? Kalo iya, sepertinya kamu kurang cocok jadi freelancer, karena sifat "karyawan" ini harus kita buang jauh-jauh. Inisiatif tinggi sangat dibutuhkan karena setiap freelancer harus berpikiran produktif, bukan hanya menjalankan perintah. Apakah saat kamu janji dengan seseorang kamu hanya mengandalkan ingatan kamu untuk waktu dan lokasinya? Kalo iya, kamu juga kurang cocok karena kami freelancer selalu berusaha memenuhi janji kami setiap harinya. Kalo cuma mengandalkan ingatan sudah pasti akan kacau, maka itu gunakan agenda supaya semua janji temu antara klien, teman, keluarga ataupun pacar bisa tergorganisir lebih baik supaya ngga ada lagi kejadian double-agenda di kemudian hari. Malas mencari informasi yang baru juga kurang cocok untuk profesi ini. Para freelancer dicari klien karena keahliannya dan ide pendapatnya akan suatu project. Jika pikiran kita update terus, selain kita bisa lebih mudah menyelesaikan lebih baik kita juga bisa membuat suatu project menjadi lebih baik. Maka kembali ke poin 1, kalo ada waktu luang cobalah belajar, mencari info baru atau setidaknya sekedar piknik untuk refreshing.

Tapi perlu diingat, ngga semua permintaan klien selalu harus bisa kita penuhi. Misal kalo ada klien yang menawar harga kita jauh dibawah pasaran, mencari info klien lain, banyak revisi yang tidak perlu tanpa menambahkan fee dan lainnya yang kira-kira bisa merugikan dan menggangu jadwal lain kita boleh juga kok untuk ditolak. Tenang, kalo pekerjaan kita bagus klien lain akan datang sendiri kok.

4. Berani Berinvestasi
Investasi disini bukan cuma melulu soal uang. Kita bisa berinvestasi dengan waktu kita yaitu memanfaatkan waktu kita untuk belajar. Berinvestasi dengan ilmu yaitu memberikan ide atau masukan untuk klien atau untuk sekedar menambah networking supaya banyak teman mudah-mudahan rejeki. Berinvestasi dengan tenaga yaitu memberikan usaha maksimal pada saat mengerjakan suatu project supaya klien puas dan akan kembali lagi suatu saat. Dan yang pasti berinvestasi dengan uang itu perlu, seperti membeli alat yang bisa menunjang pekerjaan kita, membeli pakaian yang cocok untuk pekerjaan tertentu atau untuk sekedar bepergian dengan tujuan survey, observasi atau mungkin kembali lagi untuk piknik supaya pikiran ngga penat haha...

5. Berdoa Setiap Saat
Semua usaha kalo ngga didasari dengan doa akan berkurang berkahnya. Dari doa ini kita bisa meminta rejeki kepada Tuhan supaya tetap lancar dan makin membaik dikemudian hari. Selain berdoa jangan lupa juga untuk tetap berusaha. Dan kalo sudah lancar rejekinya jangan lupa untuk bersedekah, karena keran rejeki kita harus tetap mengalir ke tempat yang lebih membutuhkan.
Nah, kesimpulannya apakah kita berani untuk melangkah lebih jauh ke profesi ini? Bagaimana kalo nanti calon mertua bertanya "Pekerjaan kamu apa?". Bagaimana kalo usaha saya ngga berhasil dan mentah ditengah jalan? Bagaimana saya bisa mulai kalo alat dan modal saya yang lain belum cukup? Saya pun sebelum memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran saya punya pikiran itu. Lama sekali saya berpikir sambil mempersiapkan segala "modal" saya untuk berani pilih jalan ini. Memang meninggalkan sesuatu yang sudah nyaman dan berpindah ke sesuatu yang masih asing untuk kita akan sulit sekali. Ngga jarang kita akan berpikir untuk menyerah. Semua pikiran itu wajar dan manusiawi. Tapi jangan jadikan ketakutan itu penghalang, tapi jadikan tantangan. 

Saya pun setelah siap dengan segala persiapan masih tetap merasakan kegagalan pada awalnya. Mungkin karena saya baru merasakan hal yang baru dan belum tau cara mengatasinya. Dibanding waktu kerja kantoran, saya bisa dengan tenang menerima gaji bulanan beserta lemburan saya di akhir bulan dan siap-siap belanja dan jalan-jalan untuk menikmati hasil keringat saya. Tapi begitu beberapa bulan saya tidak mendapat kenyamanan itu, ada perasaan panik dan takut. Tapi bukan "manusia" namanya kalo ngga menggunakan akalnya untuk bertahan hidup. Saya mulai belajar hal yang belum pernah saya pelajari disaat saya sibuk berkutat pekerjaan kantor. Saya mulai mendatangi teman-teman saya yang sudah lama saya "nomorduakan" dibanding pekerjaan kantor. Dan saya pun makin sering menghabiskan watu bersama keluarga. Dari situ mulailah membuahkan hasil. Dengan belajarnya saya akan hal baru saya bisa melakukan berbagai hal yang membuka pintu rejeki untuk saya karena mendapat project yang masih belum banyak orang menguasainya. Dengan bergaulnya kembali dengan teman-teman lama saya bisa memperluas networking yang berujung rejeki yang bertambah. Dan dengan makin seringnya bertemu keluarga, mereka juga pasti mendoakan yang terbaik untuk saya dan juga berefek lancarnya rejeki saya. 

Tapi apa yang saya tulis disini jangan dipikir semudah dan selancar cerita di sinetron. Banyak hal yang harus saya korbankan dan hasilkan dengan setimpal. Jangan berpikir apa yang telah kita kerjakan selama ini sia-sia, karena jalan hidup kita itu skenarionya sudah dibuat Tuhan sampai akhir hidup. Saya ngga pernah menyesal karena selesai kuliah saya cuma bekerja sebagai pegawai mall. Saya ngga pernah menyesal karena dipekerjaan saya sebelumnya punya Boss yang memaksa saya bisa mengerjakan segala pekerjaan kantor walaupun itu bukan tugas saya. Dan saya juga ngga pernah menyesal saya bukan dari keluarga kaya yang uangnya tinggal minta orang tua. Semua saya syukuri dan menjadi pelajaran hidup saya. 

Sekali lagi tulisan ini bukan untuk "meracuni" untuk keluar dari pekerjaan utama kamu saat ini, tapi untuk "bocoran" kalo kamu sudah siap untuk lebih mandiri, karena saat ini saya tetap menjalankan pekerjaan freelancer dan kantoran, tapi kali ini porsinya dibalik. Pekerjaan freelance yang saya rintis beberapa tahun ini tetap saya utamakan karena ini adalah "saya" yang sebenarnya sedangkan pekerjaan kantoran hanya penyangga keuangan saya disaat isi tabungan saya kurang stabil. Bagaimana bisa? Buktinya saya bisa. Clue nya, pekerjaan kantor ini saya dapatkan dikarenakan mantan Boss saya meminta saya untuk kembali mengurus kantornya. Dengan beberapa ketentuan dan syarat akhirnya saya bisa bernegosiasi dan mendapatkan keduanya. Beruntugkah saya? Mungkin. Tapi seperti yang saya bilang tadi ngga ada yang sia-sia di hidup ini karena di kantor lama saya selalu dituntut mengerjakan banyak hal sehingga si Boss ini sudah "kepincut" oleh saya untuk mengatur kantornya, walaupun dari jauh.

Jadi bagaimana? Masih tetap mau jadi pegawai atau menghasilkan pekerjaan mandiri? Sudah tau akan jawab apa nanti kalo ditanya calon mertua? Kalo saya sih akan jawab : "Pekerjaan saya freelancer yang masih bekerja di perusahaan X".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar